Make your own free website on Tripod.com

:: Menu ::

Muka Depan

Perisian

Teknik Belajar

Belajar ICT

Nota Ilmiah

Sambungan

Hantar Mesej

Tanya Guru

Hiburan

Kenali Diri Saya


:: Capaian ::

ASMKAWA Online

LAWdotEDU

Harvest Moon HQ

SMKAWA Online



 

:: Fakta-fakta Menarik ::

Kembali Ke Artikel

 Sesungguhnya meyampaikan perkara yang baik itu adalah satu amalan yang
> mudah.....
> Tetapi bukanlah mudah untuk melakukan perkara yang terlalu senang
> itu......kerana selalunya bagi masyarakat kita perkara yang baik atau
> teladan itu akan disimpan
> untuk dirinya sahaja... orang lain dibiarkan.....
>
> > Astaghfirullah
> >
> > Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka'bah
> >
> > Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan
> > nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang
> > kelima.
> >
> > Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan
> > ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka
> > memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
> >
> > Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini
> akhirnya
> > berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang
> satu
> > apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat
> > ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma
> > labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".
> >
> > Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,
> > lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi
> > berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi,
> > ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang
> > ditunjukkan oleh
> anaknya.
> >
> > Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah
> > ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak
> > mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan.
> > beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak
> > hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya.
> > Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi
> > mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh
> > kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat
> > memohon ampunan-Nya.
> Hati
> > Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap
> rahmatNYA.
> > Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala
> > kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
> >
> > Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
> > sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan
> > menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali
> > membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak
> > kepadanya.
> >
> > Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali
> > dibutakan di dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan
> > yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa
> > melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke
> > tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat
> > melihat Ka'bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di
> > matanya hanyalah gelap dan
> gelap.
> > Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu
> > berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
> >
> > Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya
> > menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah,
> > penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya
> > kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah
> > diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala
> > pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk
> > mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
> >
> > Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
> karena
> > kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa
> > kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia
> > pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu
> > mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau
> > menelponnya.
> anak
> > yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia
> > meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut.
> > Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau
> > menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya
> > di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat
> > kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di
> > masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta
> > untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah
> > dilakukannya.
> >
> > "Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan
> masalah
> > sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia
> > meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi
> > ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah
> > percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu
> > masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah
> > akhirnya. "Oh, bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,"
> > potong ulama itu. "Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan
> > berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,"
> > ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka
> > wanita itu akan berkata demikian.
> >
> > "Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena
> > tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada
> > yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya
> > perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan
> > keinginan mereka."
> >
> > Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
> > "Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu
> > yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa
> > banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
> > Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau
> > keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya
> > menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam
> > perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu
> > orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
> >
> > "Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?" tanya ulama
> > terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar
> > biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama
> > dengan nada tinggi.
> >
> > "Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit
> > kesal. "Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang
> > mati." "Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama. "Ya, tapi
> > saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."
> > "Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya bermaksud
> > menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas
> > sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan
> > tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan
> > benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."
> >
> > "Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya
> > memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan
> > lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti
> > terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya
> > dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi
> > begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya
> > masukkan benda itu
> dan
> > saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar
> penuturan
> > Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
> >
> > "Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa
> > bantu anda. Saya angkat tangan". Ulama itu amat sangat terkejutnya
> > mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada
> > seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu
> > tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita
> > yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda
> > harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa
> > mengampuni dosa Anda."
> >
> > Bumi menolaknya.
> > Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak
> > mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu
> > dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah
> > bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan
> > mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena
> > tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di
> > mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama
> > menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
> >
> > "Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan.
> > Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu
> > meninggal, Hasan ?". tanya ulama itu.
> >
> > Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari
> > kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan
> > adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk
> > kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali,
> > tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali.
> > Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali
> > menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat,
> > sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah
> > itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para
> > pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan
> > sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah
> > berkaitan dengan perbuatan si mayit.
> >
> > Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian
> > karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang
> > menjelang,
> bahkan
> > sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali.
> > Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan
> > saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang. Sebagai anak yang
> > begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan
> > jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa
> > pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan
> > seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki
> > yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir.
> > Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya
> > yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata
> > padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu.
> >
> > Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu
> > akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk
> > kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke
> > belekang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk,
> > kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi
> > pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi
> dengan
> > jenazah ibunya.
> >
> > Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan,
> > melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti
> > seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari
> > arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan
> > langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
> >
> > Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku,
> > bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman
> > karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita
> > yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah
> > dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa
> > yang
> pernah
> > dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan
> > kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
> > Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon
> > ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin
> > Allah akan
> hilang.
> > Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama
> > itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa,
> > semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah
> > dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia
> > berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan
> > diampuni oleh Allah SWT.
> >
> > Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita
> > semua. Uang Rp 50.000 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak
> > derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45
> > menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu
> > itu untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga
> > tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk
> > memasukinya.
> >
> > Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai' melalui e-mail
> > tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali
> > berfikir 2 atau 3 kali.
> >
> > OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN
> > TERSEBUT, INSYA'ALLAH.

>
(diambil dari forwarded email)

azri-afifi.cjb.net